Bir Dilarang, Bagaimanakah Nasib Bisnis Ini?

(April 2015)
Bagi anda penggemar minuman bir, bersiaplah untuk mendapatkan kenyataan bahwa produk tersebut tidak akan diperoleh segampang dulu, karena akan ada sebuah aturan yang melarang penjualan bir dengan kadar alkohol tertentu untuk dijual di minimarket. Pelarangan penjualan bir di minimarket didasarkan pada Peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 06/M-Dag/Per/1/2015 yang merupakan perubahan kedua atas Permendag nomor 20 tahun 2014 mengenai Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. 

Poin penting dari peraturan baru ini adalah minuman berkadar alkohol yang kurang dari 5 persen akan dilarang dijual di minimarket - minimarket di seluruh Indonesia yang biasanya gampang untuk didapatkan.

bisnis birNamun, memang akan ada juklak (petunjuk pelaksana) tertentu karena pemerintah tampaknya masih "galau" untuk menentukan apakah akan diimplementasikan secara keseluruhan di tanah air ataukah akan ada pengecualian - pengecualian tertentu. Karena menurut update informasi terbaru bahwa untuk daerah-daerah pariwisata seperti Bali, misalnya di kawasan Sanur dan Kuta, nanti akan ada pengecualian tertentu dengan orientasi aturan - aturan yang lebih teknis lagi, semisal bekerja sama dengan koperasi, dengan tokoh adat, dan lain sebagainya. Bagaimanakah implementasi peraturan ini di lapangan? Kita lihat saja nanti!

Berbicara mengenai produk bir, tentu akan lebih menarik jika kita juga mencermati gambaran bisnis dari produsen-produsen minuman ini. Bagaimanakah kinerja bisnis para emiten di sektor ini? Kita bisa lihat deskripsinya dari dua produsen minuman bir berkadar ringan di Indonesia, yakni Multi Bintang Indonesia (MLBI) dan Delta Jakarta (DLTA). Multi Bintang Indonesia pada tahun 2014 membukukan penjualan sebesar 2,98 triliun rupiah dengan keuntungan mencapai 794,7 miliar rupiah. Perusahaan ini nampaknya memang memiliki pasar sendiri, dan sudah hampir menguasai pasar bir di Indonesia. Sementara itu, Delta Jakarta penjualannya juga tidak jauh berbeda, yakni mencapai 879,3 milyar rupiah pada tahun 2014 dan laba bersihnya mencapai 282,2 milyar rupiah.

Selanjutnya kita akan kaji apa sesungguhnya dampak pelarangan penjualan bir di minimarket. Yang pertama akan dirasakan oleh para konsumen yang menggemari minuman ini karena mereka akan sulit mendapatkan produk ini. Yang kedua tentu dirasakan oleh para emiten / produsen bir itu sendiri, dimana potensi keuntungan mereka akan diprediksi tergerus. Untuk mengantisipasi aturan ini, beberapa produsen melakukan strategi penyesuaian, misalnya Multi Bintang Indonesia akan lebih gencar melakukan ekspansi keluar negeri, seperti Jepang, Korea, dan juga Australia. Selain itu, mereka juga lebih berinovasi dengan memproduksi minuman tanpa alkohol, seperti Green Sands.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait