Akuisisi dan Merger Perusahaan Dunia dan Indonesia

Aksi akuisisi dan merger yang melibatkan perusahaan di negara - negara berkembang Asia meningkat sebesar 83 persen secara tahunan pada kuartal ke empat tahun 2014. Ini merupakan rekor tertinggi dengan nilai transaksi sebesar 194 miliar dolar dengan jumlah transaksi sebanyak 1989 kali. Ada beberapa alasan mengapa transaksi merger dan akuisisi dilakukan oleh perusahaan, diantaranya untuk diversifikasi serta perluasan usaha, dan yang kedua adalah untuk menambah dana likuiditas.

Bagaimanakah geliat merger dan akuisisi, khususnya di kawasan Asia Pasifik pada kuartal ke empat tahun 2014? Perusahaan - perusahaan di dunia banyak yang bergeliat melakukan transaksi merger dan akuisisi. Menurut catatan Bloomberg, kawasan Asia Pasifik merupakan wilayah yang paling aktif melakukan transaksi ini. Ada lebih dari 1900 merger dan akuisisi. Dari total merger dan akuisisi tersebut, ada sekitar 1103 transaksi yang masih dalam proses tahap perkembangan pada kuartal keempat tahun 2014. Nilainya sekitar 152,7 miliar dollar amerika serikat. Lalu ada 752 transaksi akuisisi dan merger yang sudah tuntas pada kuartal ke empat tahun 2014 senilai 24,6 miliar dolar amerika serikat. Kemudian ada 134 transaksi yang masih dalam tahap pengajuan dengan nilai 16,7 miliar dolar amerika serikat.

merger dan akuisisi peruahaanJika dibagi berdasarkan wilayahnya, maka yang terbesar adalah ada di kawasan Asia Pasifik dimana nilainya adalah 170,2 miliar dolar amerika. Di posisi kedua adalah negara-negara berkembang yang ada di Amerika utara dimana transaksinya pada kuartal ke empat tahun 2014 mencapai 10,1 miliar dolar amerika serikat. Pada urutan ketiga adalah kawasan negara-negara berkembang di Eropa dengan nilai 7,3 miliar dolar amerika serikat. Jika kita tinjau dari sektornya, ternyata sebesar 60 persen transaksi berada pada tiga sektor utama, yakni perbankan, industri, dan konsumer. Aksi akuisisi dan merger di dunia perbankan bernilai 61,4 miliar dolar yang didorong oleh adanya transaksi merger antara RHB Capital, CIMB dan Malaysia Building Society yang mencatatkan transaksi sebesar 16,5 miliar dolar Amerika. Di posisi kedua adalah sektor industri sebesar 34,9 miliar dolar amerika serikat yang didorong oleh adanya akuisisi di Tiongkok CSR dengan China CNR terkait manufaktur kereta senilai 14,3 miliar dolar amerika. Sektor konsumer menempati posisi ketiga sebesar 25,8 miliar dolar Amerika, kemudian diikuti oleh sektor komunikasi dan juga bahan dasar.

Lalu bagaimanakah gambaran merger dan akuisisi di Indonesia sepanjang tahun 2014? Di indonesia terjadi beberapa akuisisi dan merger, misalnya PT. Axis Telkom Indonesia yang diakuisisi oleh XL. Permohonan mengenai akuisisi XL terhadap Axis sebenarnya sudah diajukan ke KPPU pada tanggal 1 Agustus 2013, namun proses akuisisi ini baru selesai pada Maret tahun 2014. Merger dan akuisisi ini dilakukan untuk mengatasi kesulitan keuangan operasional perusahaan, mengingat sejak tahun 2013 pemegang saham di perusahaan Axis sudah berhenti untuk mengucurkan dananya. Aksi merger juga terjadi pada Indofood dengan BRF (Brazil Food) yang memungkinkan Indofood untuk memasuki usaha makanan berbahan dasar protein hewani. Kemudian akuisisi juga terjadi pada Danone Diary Indonesia oleh Indolakto sebesar 250 miliar rupiah. Dan pada akhir tahun 2014 persisnya pada 25 September, Telkom Australia atau PT. Telekomunikasi Indonesia Internasional Australia mengakuisisi sebesar 75 persen saham dari Contact Center Australia atau CCA senilai 11 juta dolar australia atau setara dengan 120 miliar rupiah.

Lalu bagaimana rencana - rencana merger dan akuisisi kedepannya? Sejak tahun 2010, pemerintah sudah memiliki rencana untuk membentuk konsolidasi perbankan yang yang tercantum dalam Master Plan Perbankan Indonesia (MP2I). Namun ternyata hingga akhir tahun 2014 belum juga terwujud, sehingga kembali diperpanjang, dimana rencana untuk konsolidasi perbankan kembali ditargetkan pada tahun 2014 sampai 2024 nanti. Ada juga holding di sektor perkebunan dimana ada 14 PT. Perkebunan Nusantara atau PTPN dan PT. Rajawali Nusantara Indonesia atau RNI yang akan dilebur dan yang akan menjadi induk usahanya adalah PTPN 3 yang berlokasi di Medan. Selain itu, juga ada holding di sektor usaha kehutanan, dimana 5 BUMN di bidang kehutanan akan disatukan dengan Perhutani. Lalu ada juga di sektor farmasi, yakni pemerintah berencana menggabungkan 2 perusahaan yang dinilai memiliki bisnis serupa yaitu Kimia Farma dan Indofarma yang sejatinya sudah diwacanakan sejak tahun 2005 namun belum juga tercapai hingga penghujung tahun 2014.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait