Sistem Pembayaran Uang Elektronik (e-Money)

Dari masa ke masa, perubahan alat pembayaran terus mengalami perkembangan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adaptasi kebutuhan manusia. Di zaman awal mula peradaban manusia, alat pembayaran yang digunakan adalah dengan sistem barter atau tukar-menukar barang yang nilainya dianggap setara. Kemudian peradaban manusia mengalami kemajuan, sehingga kita mulai mengenal uang logam yang berupa emas, perak, perunggu, atau jenis logam lainnya. Setelah itu, bangsa-bangsa di dunia mulai menggunakan uang kertas sebagai alat pembayaran yang sah.

Alat pembayaran secara tunai lebih banyak memakai uang kartal (uang kertas dan uang logam). Uang kartal hingga kini masih memegang peranan penting, terutama untuk transaksi bernilai kecil.

uang elektronikDalam kehidupan masyarakat modern, penggunaan alat pembayaran secara tunai seperti uang kartal ternyata cenderung lebih kecil dibanding uang giral. Menurut data yang dikeluarkan Bank Indonesia tahun 2005, perbandingan uang kartal terhadap jumlah uang beredar sebesar 43,3 %. Pemakaian uang kartal memiliki kendala efisiensi yang lebih disebabkan karena biaya pengadaan dan pengelolaannya tergolong mahal, memiliki risiko mudah hilang, mudah dicuri, atau mudah dipalsukan. Berlatar belakang alasan tersebut, Bank Indonesia memiliki inisiatif untuk mendorong tumbuhnya budaya masyarakat agar terbiasa memakai alat pembayaran nontunai atau yang lazim dinamakan "masyarakat nontunai" atau cashless society

Seiring dinamika perkembangan zaman, alat pembayaran yang dipakai masyarakat dunia terus berkembang dari alat pembayaran tunai (cash) ke alat pembayaran nontunai (non cash). Alat pembayaran yang termasuk non-tunai terdiri dari: 

1. Alat pembayaran yang berbasis kertas atau yang disebut paper based, misalnya cek dan bilyet giro.

2. Aalat pembayaran yang tidak menggunakan kertas (paperless) contohnya transfer dana elektronik.

3. Alat pembayaran yang menggunakan kartu atau disebut card-based, diantaranya kartu ATM, kartu debit, kartu kredit, dan kartu prabayar. 

Alat pembayaran dengan berbasis  kartu yang disebut dengan istilah APMK (Alat Pembayaran Menggunakan Kartu) terdiri dari kartu ATM, kartu debit, dan kartu kredit. Sedangkan, kartu prabayar saat ini sudah tidak lagi digolongkan dalam APMK, tetapi termasuk uang elektronik atau electronic money (e-money). Uang elektronik tersebut ada yang berbentuk kartu (card based) maupun nonkartu (server based).

Lalu apa perbedaan antara APMK dengan uang elektronik? Perbedaan utamanya terletak pada hal status konsumen. Untuk mendapatkan layanan (memiliki kartu ATM, kartu debit, atau rekening kartu kredit) konsumen APMK diharuskan menjadi nasabah bank yang bersangkutan, sehingga mereka harus mempunyai rekening tabungan. Sedangkan para konsumen uang elektronik tidak perlu menjadi nasabah bank, karena mereka dapat secara langsung membeli uang elektronik melalui pihak penerbit (bank atau perusahaan telekomunikasi). 

Bagaimanakah prinsip kerja uang elektronik? Pada dasarnya cara kerja uang elektronik dapat diibaratkan dengan kartu prabayar pulsa ponsel. Artinya produk tersebut baru bisa digunakan jika telah diisi dengan "pulsa" atau setoran dana tertentu. Untuk mengisi ulang uang elektronik tersebut, konsumen dapat melakukannya melalui ATM, via telepon seluler (handphone), atau mengisi ulang secara tunai via agen penjualan yang ditunjuk oleh penerbit (bank atau perusahaan telekomunikasi). Saat ini, uang elektronik dapat digunakan untuk membayar berbagai macam transaksi seperti membeli pulsa HP, berbelanja barang jasa, membayar ongkos jalan tol, membayar tiket pesawat terbang,  membeli tiket bus atau kereta api, dan juga membeli BBM di SPBU tertentu yang telah menyediakan fasilitas ini. Seiring perkembangan zaman, uang elektronik tersebut akan digunakan untuk membayar berbagai transaksi.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait