Gambaran Singkat Pasar Modal di Indonesia

Pasar modal atau yang populer disebut Capital Market merupakan satu dari beberapa elemen penting yang menjadi tolok ukur perkembangan dan kemajuan perekonomian suatu negara. Pasar modal yang tumbuh dan berkembang dengan baik merupakan salah satu indikator dari sebuah negara industri maju maupun negara industri baru. 

Dengan melihat angka-angka yang tampil pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kita dapat mengetahui perkembangan berbagai perusahaan yang listing di bursa efek, dan selanjutnya menjadi pertanda situasi perekonomian sebuah negara. Merosotnya IHSG secara tajam mengindikasikan sebuah negara sedang mengalami krisis ekonomi. Pasar modal yang mencerminkan deskripsi umum perekonomian suatu negara ternyata secara langsung berkaitan dengan investasi, sehingga juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengundang masuknya investor asing dan dana-dana luar negeri yang dijadikan cara dalam mendorong roda perekonomian negara.

Investasi dalam pasar modal menjadi salah satu bidang bisnis yang menjanjikan keuntungan berlipat, namun juga sebanding dengan risikonya. Jika merasa ingin berinvestasi yang aman, maka salah satu caranya adalah dengan tabungan dan deposito. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, investasi dalam bentuk tabungan dan deposito di bank tergolong aman karena dijamin oleh lembaga penjamin simpanan (LPS),  asalkan memenuhi kriteria dan persyaratan yang ditetapkan oleh LPS. Dengan adanya jaminan tersebut, para nasabah tidak perlu banyak khawatir, karena jika suatu ketika bank tersebut mengalami kebangkrutan, maka tabungan dan deposito mereka akan tetap mendapat penggantian dari LPS secara utuh. 

Nah, sistem penjaminan semacam ini tidak kita jumpai dalam bisnis investasi di bursa efek. Saat kita membeli saham, maka hanya ada dua kemungkinan yang akan kita peroleh, yaitu keuntungan atau kerugian. Jika harga saham yang kita beli naik, maka kita akan mendapat keuntungan (capital gain). Sebaliknya, jika harga saham yang kita beli mengalami penurunan, kita akan mengalami kerugian (capital loss). Bahkan, jika perusahaan yang sahamnya kita beli mengalami kebangkrutan, maka kita hanya mendapatkan kantong kosong karena nilai keseluruhan saham menjadi hilang total alias nol. Investasi yang dilakukan  di pasar modal atau bursa efek memang memiliki risiko lebih besar dibandingkan dengan investasi tabungan dan deposito.  Namun, jika anda mampu mengelola dan melaksanakan bisnis tersebut secara bijak dan hati-hati, maka investasi di pasar modal ini dapat mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda. Jika dalam investasi deposito kita hanya memperoleh keuntungan bunga sekitar 6% per tahun, maka perdagangan saham di bursa efek dapat menjanjikan keuntungan lebih dari 6% hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Tentu semua itu harus dilakukan dengan bijak, hati-hati, penuh perhitungan, dan berdasarkan pengalaman yang sejalan dengan intuisi bisnis.

Pengalaman ternyata menjadi hal yang cukup penting dalam menunjang kesuksesan investasi di bursa saham.  Para investor yang sudah berpengalaman di pasar modal biasanya cenderung lebih mampu membuat keputusan yang tepat, artinya tahu kapan harus membeli efek dan kapan harus menjual efek. Salah satu tokoh yang menjadi ikon dalam bisnis pasar modal adalah Warren Buffet yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia. Ia berhasil berkat mampu menerapkan berbagai kiat sukses, salah satunya adalah berani membeli saham perusahaan-perusahaan yang sedang turun drastis, yang menurut intuisinya masih memiliki prospek usaha yang baik pada masa depan. Ketika kondisi perusahaan-perusahaan tersebut sehat kembali, harga sahamnya akan kembali melambung tinggi, dan Warren Buffet pun memperoleh keuntungan luar biasa.  Warren Buffet tergolong investor yang senang berinvestasi dalam jangka panjang, bahkan hingga puluhan tahun. 

Hal ini justru berbeda dengan kebanyakan pemain saham di Indonesia yang cenderung lebih suka berspekulasi dan berinvestasi dalam jangka pendek.  Jumlah investor di Indonesia masih tergolong kecil, yaitu hanya 0,2% dari total penduduk Indonesia atau lebih kurang 600.000 pemodal, menurut data yang diterbitkan oleh Bapepam-LK tahun 2009. Sementara negara tetangga yang masih serumpun dengan kita, yakni Malaysia ternyata mempunyai jumlah investor sekitar 12,8% dari total penduduk atau lebih kurang tiga juta investor.

Bahkan, negara kecil Singapura memiliki jumlah investor 30% dari total penduduk atau sekitar 1,26 juta investor. Kecilnya jumlah pebisnis investasi pasar modal di Indonesia salah satunya disebabkan oleh kurangnya wawasan mengenai bisnis di pasar modal, dan adanya anggapan bahwa menggeluti bisnis di dunia saham adalah barang mewah yang hanya cocok dilakukan oleh orang-orang yang telah kaya raya.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait