Tantangan Bisnis Energi dan Jasa Keuangan Tahun 2015

Sekolah Bisnis dan Manajemen di Institut Teknologi Bandung atau SBM ITB mengadakan forum pertemuan alumni pada awal bulan Desember 2014 yang bertempat di Kampus Jakarta. Forum diskusi tersebut membicarakan mengenai tantangan besar yang akan dihadapi negara Indonesia, terutama pada sektor energi. Datang sebagai pembicara adalah Ahmad Yuniarto (Ketua Schlumberger Indonesia), Rico Usthavia Frans (Senior Executive Vice President untuk Transactional Banking PT. Bank Mandiri Tbk), dan Dr. Agung Wicaksono (Dosen SBM ITB) yang berperan sebagai moderator forum. Dalam pemaparan dan tanya jawab dengan peserta, ada beberapa poin penting yang mungkin dapat menjadi bahan kajian selanjutnya, khususnya bagi pihak terkait. 

Ketua Schlumberger Indonesia mengatakan "Sektor energi merupakan sektor di mana Anda tidak perlu bekerja untuk mendatangkan permintaan. Bahkan ketika Anda tidur, Anda akan melihat permintaannya tetap tumbuh.

bisnis energiTapi di sisi lain, itu adalah tantangan yang sangat besar. Melihat ke tahun 2025, kita akan masuk ke level 8 juta barel minyak per hari. Kita seharusnya tidak hanya untuk mempertahankan tingkat produksi, tetapi juga untuk produksi tersebut. Dan revolusi terbesar dalam hal energi adalah bahwa kita harus pindah dari persepsi bahwa Indonesia kaya akan sumber daya energi". Artinya kita diharapkan jangan terus terlena dengan jargon Indonesia adalah negeri yang kaya raya, sehingga membuat kita menjadi bangsa yang boros dan pemalas.

Pada sektor finansial, seperti yang diutarakan oleh Rico, yang menjabat sebagai Senior Executive Vice President for Transactional Banking of PT. Bank Mandiri Tbk, menyatakan bahwa "Setiap 5 tahun, kami memiliki rencana jangka panjang mulai dari tahap 1 tahun 2005 - 2009, fase 2 di 2010 - 2014 dan tahap 3 2015 - 2020. Visi kami adalah untuk memimpin posisi domestik dan memperkecil kesenjangan pada area utama, memasuki peluang regional yang bernilai tinggi. Tentu saja, kami ingin menjadi ikon Indonesia seperti Samsung di Korea, Sony di Jepang atau Apple di AS. Dan ketika kita berbicara tentang Industri keuangan, ada Mandiri di Indonesia."

Melalui moderator Dr Agung Wicaksono,  dalam forum diskusi tersebut, banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para penonton. Ahmad Yuniarto menjelaskan kepada peserta tentang alasan mengapa kita memiliki strategi bauran energi (mix energy). "Untuk keluar dari ketergantungan kita pada bahan bakar fosil, maka langkah awal yang ditempuh adalah masuk ke energi baru dan terbarukan, di luar bahan bakar fosil tradisional. Bangaa Indonesia mengatakan bahwa negara Indonesia memiliki sumber daya terbesar berupa potensi panas bumi di dunia, tapi mengapa energi panas bumi tidak tumbuh? Beberapa masalah tersebut sebenarnya terkait dengan kendala non teknis, yakni panas bumi terkait dengan magma, dan magma yang terkait dengan gunung berapi, dan pada sekitar kawasan gunung berapi terdapat hutan lindung yang indah. Dan ketika kita berbicara tentang energi baru dan terbarukan, peluang terbesar di Indonesia bukanlah panas bumi, bahkan bukan pula hidro. Peluang terbesar di Indonesia adalah biofuel dan biomassa".

Pada akhir forum tersebut, moderator menyampaikan simpulan diskusi. "Baik itu mengembangkan keberlanjutan energi atau memperluas inklusi keuangan, kuncinya terletak pada orang. Kita perlu memiliki orang yang tepat di tempat yang tepat, orang-orang tanpa kepentingan dan catatan buruk dari masa lalu yang bisa membuat keputusan yang tepat. Inilah mengapa revolusi mental terdengar mudah tapi sebenarnya sangat sulit, karena berhubungan dengan keputusan yang sederhana namun bisa jadi sulit untuk orang dengan mentalitas yang salah. Ini adalah pondasi yang sangat mendasar dari revolusi mental, bukan mewajibkan PNS untuk makan singkong atau pejabat terbang di kelas ekonomi".

Pada kesempatan tersebut, Dr. Yos Sunitiyoso yang menjabat sebagai Direktur Kampus Jakarta berbagi pesan kepada para alumni, "Seiring dengan pertumbuhan kita, jumlah saat ini mahasiswa Jakarta telah mencapai sekitar 428 dengan jumlah alumni 346. Dan mulai tahun depan, kami memiliki gelar doktor ilmu manajemen yang diselenggarakan di Jakarta dan kami telah memiliki beberapa alumni MBA yang diterima sebagai mahasiswa". Sumber >> sbm.itb.ac.id

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait