5 Profesi di Indonesia yang Semakin Langka

Seiring perkembangan zaman, akan selalu muncul hal-hal yang baru. Sebaliknya sesuatu yang lama akan mulai ditinggalkan hingga akhirnya tinggal kenangan. Era yang terus berkembang, membuat banyak hal harus beradaptasi. Jika dirasa sudah tidak menguntungkan lagi, maka akan ditinggalkan. Nah, demikian juga dengan kelima profesi ini yang tampaknya perlahan-lahan semakin berkurang karena tergilas oleh roda zaman. Apa sajakah pekerjaan yang mulai menghilang tersebut? Inilah uraiannya:

1. Penjaga Wartel
Di era tahun 80-90an, bisnis wartel mengalami perkembangan yang pesat. Di berbagai pelosok desa, banyak dibangun kios-kios warung telepon yang menjadi sarana masyarakat untuk berkomunikasi dengan kerabatnya yang jauh. Dan untuk mengoperasikan bisnis wartel tersebut, tentu dibutuhkan seorang operator yang akan melayani para pengguna jasa telepon. Namun kini, bisnis wartel ini telah berada di titik nadir, tergeser oleh kehadiran telepon genggam yang lebih praktis dan harganya tidak terlalu mahal.

2. Fotografer Keliling
fotografer keliling
Di era tahun 90an ke bawah, hanya sedikit orang yang memiliki perangkat kamera. Selain karena harganya yang mahal, proses pencetakan foto yang memerlukan keterampilan dan proses yang agak lama membuat orang enggan membeli gadget ini. Maka saat itu, profesi sebagai tukang foto keliling sangat prospektif untuk dilakoni. Mereka biasanya "mangkal" di acara resepsi pernikahan, wisuda, dan juga tempat-tempat wisata. Namun, seiring semakin terjangkaunya harga kamera, dan bahkan juga tersematkan dalam perangkat ponsel, akhirnya membuat juru foto keliling sudah jarang dibutuhkan lagi, apa lagi saat ini sudah banyak berdiri pusat percetakan foto digital dengan kualitas yang sepadan.

3. Dukun Beranak
Profesi ini di Indonesia masih terdapat di daerah-daerah terpencil. Namun, tampaknya semakin berkurang dengan program-program pemerintah yang menyediakan akses kesehatan hingga ke pelosok-pelosok negeri. Masyarakat juga lebih memilih untuk mempercayakan proses kelahiran janin bayi di pusat-pusat medis, seperti bidan, puskesmas, dan rumah sakit dengan tenaga yang terdidik dan profesional.

4. Tukang Minyak Tanah Keliling
Dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah yang mengkonversi penggunaan minyak tanah ke gas lpg, maka profesi ini akhirnya mulai jarang ditemukan berseliweran di jalan-jalan rumah warga. Minyak tanah yang tidak mendapat subsidi lagi dari pemerintah membuat warga beralih menggunakan kompor gas lpg dalam aktivitas dapurnya sehari-hari. Dan akhirnya suara lantang si tukang minyak tanah keliling sudah tidak lagi kita dengar di pagi dan sore hari.

5. Pencatat Meteran Listrik
Profesi terakhir yang akan tinggal kenangan adalah pencatat meteran listrik. Petugas ini biasanya secara rutin mengunjungi rumah kita tiap bulannya. Dengan alat pendeteksi meteran dan sebuah alat tulis, mereka mencatat jumlah pemakaian listrik yang kita gunakan. Namun, kebijakan PLN yang mengubah pola pembayaran dari paska bayar menjadi pra bayar alias sistem pulsa, membuat warga masyarakat harus mandiri mengontrol kondisi listrik di rumahnya. Dan inilah yang membuat profesi pencatat meteran listrik semakin lenyap tergilas modernisasi.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait