Bisnis Toko Buku yang Makin Beku

Membangun sebuah bisnis toko buku (book store) dan majalah memang bukanlah hal yang terlalu sulit dilakukan. Jika modal usaha telah tersedia, maka langkah selanjutnya:

1. Pemilihan lokasi yang strategis, misalnya di dekat sentra pendidikan, di mall, atau di pusat keramaian lainnya.

2. Menentukan tema-tema buku yang akan dijual, misalnya buku-buku pelajaran sekolah, buku-buku tentang agama, buku romansa dan novel, atau juga berbagai jenis tema. Hal tersebut bertujuan untuk menyesuaikan jumlah anggaran yang tersedia, mengingat kategori dan judul buku ada banyak sekali jenisnya.

bisnis toko buku
3. Mendapatkan stok buku yang bisa diperoleh melalui agen/distributor buku, reseller, atau langsung ke pihak penerbit. Jika membeli langsung ke penerbit tentu harganya lebih murah, namun anda harus membeli dalam jumlah banyak dan kategori buku yang tersedia agak terbatas. Sedangkan jika membeli buku di agen atau distributor, maka anda bisa membeli aneka variasi judul buku yang berbeda karena distributor biasanya menjalin kerjasama dengan berbagai penerbit, namun tentu harganya lebih mahal. Namun jika ada agen atau penerbit yang bersedia bekerjasama dengan cara konsinyasi (titip jual) atau pun pembayaran kredit, maka itu merupakan hal yang dapat membantu usaha anda.

4. Langkah berikutnya membuat penataan toko yang unik dan nyaman, menyediakan beberapa perlengkapan penunjang, serta melakukan promosi usaha, misalnya membuat toko online.

Bergelut dalam bisnis toko buku dan majalah dalam tahun-tahun belakangan ini memang cenderung mengalami penurunan omzet. Meskipun minat baca masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan, namun digitalisasi produk buku telah membuat cara dan gaya baca manusia telah mengalami perubahan, sehingga banyak pebisnis di bidang ini yang mulai kelimpungan.

Di Amerika, digitalisasi buku yang bisa dibaca lewat tablet book membuat banyak toko-toko buku offline menjadi gulung tikar. Apalagi format buku digital ataupun majalah terus mengalami pembaharuan dan kostumisasi yang menarik, sehingga membaca buku lewat gadget tersebut lebih menarik. Misalnya format standard buku digital (e-book) yang dulunya hanya dalam bentuk format pdf, kini menjadi beragam format misalnya epub yang bisa menyisipkan gambar animasi dan potongam video dalam halaman buku, ataupun format djv, sehingga para pembaca merasa lebih atraktif. Para perusahaan besar juga terjun dalam bisnis buku digital ini dan perlahan-lahan menggeser eksistensi toko buku tradisional (offline). Contohnya Qbaca dari Telkomsel, XL Baca, Wayang Force, dsb. 

buku digital
Kemajuan dan kemudahan akses internet juga membuat banyak orang bisa memperoleh banyak informasi tanpa perlu membeli buku, sehingga usaha toko buku menjadi semakin tersendat-sendat. Namun, digitalisasi buku juga mempunyai banyak kelemahan, misalnya harus memerlukan perangkat baca (gadget), tidak terlalu nyaman dibawa baca sambil tiduran (sampai tertidur), atau hilangnya arsip buku yang tersimpan ketika perangkat rusak atau tercuri. Oleh karena itu, meskipun omzet toko buku offline kian tergerus, namun nampaknya bisnis toko buku akan tetap eksis selama masih banyak kendala-kendala yang dihadapi dalam penggunaan buku-buku digital di Indonesia.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait